Friday, September 17, 2010
Enaknya jadi pengemis di jakarta
Thursday, June 3, 2010
Sejauh Mana Nasionalisme Diperlukan?
Suatu hari, seperti biasa saya menuliskan wall message kepada salah satu teman saya yang berulang tahun, dan seperti biasa pula, teman saya membalas dengan ucapan terimakasih yang diiringi sedikit basa basi. Tapi kali ini basa basinya berbuntut pada sebuah pemikiran bagi saya. Teman saya bilang,"Eh, gue sekarang udah ga di Jakarta loh, sekarang gue kerja di Kuala Lumpur. Udah tau belum?"
Teman saya ini adalah orang ke sekian dari teman-teman saya yang bekerja di luar negeri. Prospek karir yang lebih baik, gaji yang menjanjikan, dan taraf kehidupan yang lebih tinggi adalah alasan-alasan mereka ketika ditanya mengapa harus bekerja di luar negeri. Padahal, mereka-mereka itu adalah orang-orang yang berprestasi di bidangnya, dan sebenarnya bisa menggunakan kemampuan mereka untuk membangun negeri. Ah, terlalu naifkah saya?
Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk bekerja di dalam negeri atau di luar negeri, orang kebanyakan akan memilih di luar negeri. Mengapa harus membaktikan diri di negeri yang kurang menghargai kemampuan dan kreativitas kita, dan tidak mau memberikan imbalan sepadan untuk sumbangsih kita? Sedangkan di luar negeri, masih banyak yang bersedia untuk memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, imbalan sepadan, dan tunjangan-tunjangan hidup lainnya. Tapi bagaimana dengan rasa nasionalisme kita? Haruskah kita membaktikan diri kita, dan menggunakan ilmu kita untuk membangun negara orang lain? Relakah kita melihat negeri kita semakin terpuruk, sedangkan negeri orang lain semakin berkembang, yang sedikit banyak juga terjadi karena sumbangsih putra putri Indonesia yang hibah ke negeri orang tersebut?
Salahkan atlit-atlit berbakat, putra putri Indonesia yang "dibajak" negara lain untuk menjadi atlet atau pelatih disana, dan pada akhirnya membawa kemenangan bagi tim negara tersebut, -dan ironisnya, juga mengalahkan tim Indonesia? Dapatkah kita menuntut pengabdian total mereka, sementara kita tau bahwa tunjangan, fasilitas, serta jaminan masa depan bagi atlet Indonesia dari pemerintah sangat minim?
Harian Kompas Jakarta pernah memberitakan bahwa ternyata dibalik kemenangan Lin Dan mengalahkan Taufik Hidayat dalam perebutan Piala Thomas belum lama ini, tersebutlah seorang kakek asal Lampung yang bernama Tang Hsien Hu. Tang Hsien Hu pernah menjadi pelatih Indonesia sejak tahun 1986 dan berperan dalam membantu Indonesia merebut medali emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Namun, oleh karena permohonan kewarganegaraannya ditolak, pada tahun 1998 beliau kembali ke negeri Tiongkok dan menjadi pelatih disana. Kalau sudah seperti itu, dapatkah kita mempertanyakan rasa nasionalisme beliau?
Kembali ke dunia pendidikan, berapa banyak putra putri bangsa yang cerdas dan mendapat beasiswa untuk studi di luar negeri, yang pada akhirnya menolak untuk pulang dan mengabdikan ilmunya di Indonesia? Padahal, Indonesia membutuhkan putra putrinya yang cerdas, dan dapat memberikan sumbangsihnya untuk turut membangun dan mengembangkan Indonesia. Bagaimana Indonesia dapat maju jika putra putri terbaiknya malah memilih untuk mengembangkan negeri orang lain?
Biarlah hal ini menjadi sebuah perenungan kita bersama, terutama pemuda pemudi Indonesia. Dalam hal ini saya tidak mengatakan mana yang benar dan mana yang salah, saya hanya mencoba memaparkan kenyataan dan mengajak teman-teman pemuda untuk berpikir, apa yang sebaiknya kita lakukan, dan apa yang dapat kita lakukan. Semoga Tuhan memberikan hikmat-Nya kepada kita untuk bisa melakukan sesuatu untuk negara di mana kita telah ditempatkan ini.
sumber berita : Harian Kompas Jakarta
Thursday, February 4, 2010
yes, it's really a corruption, darling

Pergilah kita ke salah satu toko buku besar di pusat pertokoan daerah kelapa gading. Setelah milih-milih di salah satu stand yang ada, terpilihlah sebuah bolpen keren yang kita anggep cocok buat bokapnya. dan biar tambah keren, ditambahkanlah grafiran nama sang bokap di bolpen tersebut (skalian biar kalo ilang ketauan siapa yang punya juga, gitu hehe).
kata si Mbak penjaga stand (masih trainee sepertinya, diliat dari seragamnya), kalo mau digrafir bisa. kalo mau yang langsung jadi dan ditunggu, kena biaya 30rb (kalo ga salah). tapi kalo mau free juga bisa, asal nunggu 10 hari. dan berhubung kita suka yang gratisan, jadilah kita pilih buat nunggu 10 hari haha.
kebetulan lagi ada promo, beli bolpen apapun merk tersebut bisa beli bolpen/pensil jenis tertentu dengan harga lebih murah. mumpung promo, jadilah gue ikut-ikutan beli bolpen promo itu buat nyokap, dan, tentunya, dengan grafir -gratisan- juga donk hehe..
setelah proses pembayaran dll selesai, si mbak penjaga stand menyerahkan bukti tanda terima, sekaligus minta data kita (cowo gue tepatnya) biar nanti bisa dihubungi kalo grafirnya udah selesai.
dan kita pun pulang tanpa prasangka apapun. malah cowo gue sempet komen kalo Mbak penjaga stand nya baik banget, karena tetap ramah ngeladenin kita (cowo gue tepatnya) yang banyak maunya, minta ini itu, padahal waktu itu toko udah ampir tutup
seminggu kemudian, cowo gue dapet sms yang mengatasnamakan pegawai stand bolpen tersebut. dia bilang, karena ada kerusakan mesin, maka kita dikenakan biaya sebesar 75 ribu untuk biaya grafir kedua bolpen. 35 untuk bolpen bokap cowo gue, dan 40 untuk bolpen nyokap gue.
Ada yang aneh.
pertama, sejak kapan ya kerusakan mesin mereka jadi tanggung jawab kita? lagian, apa hubungannya antara mesin rusak dan kita harus bayar biaya grafir? kalo emang mesin rusak, mungkin dampaknya cuma grafiran kita jadinya telat, ato malah ga bisa digrafir sama sekali. tapi kalo misalnya gara-gara mesin rusak kita harus bayar grafir? ga make sense, deh!
kedua, informasi kerusakan disampaikan melalui SMS. perusahaan internasional macem apa yang kasih tau informasi kepada pelanggan melalui sms? (well, kecuali perusahaan telekomunikasi, karena mereka yang punya haha).
ketiga, mereka hanya meng INFORMASIKAN kalo kita harus bayar sekian, bukan meng KONFIRMASI apakah kita bersedia bayar lebih utk grafir, yang sebenarnya diluar perjanjian awal. dari awal kan mereka bilang grafir itu free dengan tunggu 10 hari, kalo mau cepat dan langsung jadi baru bayar 30 ribu. mana bisa mereka dengan sepihak netapin kalo kita harus bayar?
keempat, mereka bilang, setiap bolpen dikenakan harga grafir yang berbeda, karena beda bahan. sedangkan pada pembelian awal kita di toko, si penjaga toko cuma bilang biaya grafir sebesar 30ribu, dan ga menyebutkan sama sekali ada harga grafir yang beda untuk bahan yang beda.
kelima, bolpen gue beli itu bahkan harga promonya lebih murah dibanding harga grafirnya. mana mungkin?
kalo mau nipu mbok ya pinteran dikit gitu.
karena ga jelas, cowo gue telpon ke no tersebut, tapi ga diangkat-angkat. then, dia coba telpon ke toko bukunya. dan setelah komplain ga terima serta setengah ngancem kalo dia ga mau bayar ato minta duitnya dibalikin, respon mereka adalah nanti mereka akan tanya ke pihak perusahaan dan akan ngabarin cowo gue lagi.

satu lagi yang aneh, abis itu si mbak bilang, nanti dihubunginya via sms aja ya, jangan via telpon lagi. (maksudnya jangan telpon-telpon ke toko buku itu lagi).
ih, takut ketauan ya, mbak?
dan ga lama, cowo gue pun menerima sms yang bilang kalo kerusakan mesin adalah kesalahan mereka, dan oleh karena itu customer ga dikenakan biaya tambahan. mereka juga bilang kalo bolpen nya udah selesai digrafir dan bisa diambil.
yaelah, cepet amat ya pengambilan keputusan di perusahaan segede itu. ckckck ga mungkin secepet itu kali, Mbak!
gue emang ga punya bukti nyata buat bikin statement kalo ini cuma ulah oknum yang berusaha cari celah buat cari duit. tapi, banyak hal aneh disini, dan ya kita nggak sebodoh itu juga kali..
jadi inget, beberapa bulan yang lalu kita juga pernah dicatut duit kembalian parkir, lagi-lagi di daerah kelapa gading. "hanya" 5ribu, tapi perasaan kesal karena dibohongi itu melebihi nilai 5ribu itu sendiri.
Kesel bener ya, nyari-nyari objekan sampe ke hal-hal kecil. and yes, it's really a corruption, darling.

kesel, ternyata korupsi bener-bener jadi bagian dari hidup sehari-hari. bukan cuma ada di acara berita di tv, bukan cuma di gedung-gedung pemerintahan (katanya), ato di instansi-instansi tertentu. but corruption does happen in our daily life.
Ga heran indonesia disebut-sebut sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi terparah (gue lupa ranking berapa). wong sampe hal-hal kecil juga teteup usaha buat nyari duit tambahan, dengan cara yg ga halal.
tiba-tiba merasa pesimis, gimana Indonesia bisa maju, gimana Indonesia bisa berhasil menghapuskan korupsi dari sejarahnya ya? korupsi udah mengakar terlalu dalam di masyarakat. korupsi udah terlanjur jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. alhasil kita cenderung permisif terhadap tindak korupsi kecil-kecil itu. dengan alasan, "yah biasalah, namanya juga usaha." ih.. dah jelas-jelas salah ko ditolerir..
sedih jadinya kalo mikir moral bangsa (duileh, berat bener ya). dan sebagai bagian dari bangsa indonesia, mungkin gue sendiri juga ga lepas dari sifat-sifat jelek orang indonesia. bahkan mungkin pula gue secara ga sadar telah melakukan korupsi, mungkin bukan korupsi materi, tapi korupsi waktu.
*sigh
tak bisa berkata apa-apa lagi. cuma bisa berharap dan berdoa, supaya suatu hari nanti Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik.
Friday, July 17, 2009
apa MAU mu?
2 ledakan di 2 hotel internasional hanya dengan selisih waktu 2 menit.
belasan korban meninggal, puluhan luka-luka, termasuk warga asing dan petinggi perusahaan.
SEDIH
beberapa tahun belakangan, Indonesia udah tenang dari ancaman bom. perekonomian membaik, pariwisata meningkat. sedih membayangkan semua itu (mungkin) akan tidak sebaik sebelumnya. sedih membayangkan image buruk, cap negatif terhadap Indonesia kembali dilayangkan bangsa-bangsa asing. sedih membayangkan kemungkinan negara-negara asing melarang bangsanya untuk berkunjung ke Indonesia. sedih membayangkan
usaha perbaikan ke arah lebih baik (seperti) harus mundur beberapa langkah, entah kapan bisa majunya ke arah yang stabil.
MALU
sebagai bangsa Indonesia, malu atas kejadian seperti ini. seakan pemerintah ga bisa mengantisipasi teror seperti ini. apalagi ternyata ada isu untuk menggagalkan pemilu (yg belum dikonfirmasi berkaitan ato ngga).malu karena masalah di Indonesia ga abis-abisnya. apalagi kalo ternyata pelakunya (mungkin) adalah orang Indonesia sendiri. what the hell were they thinking about? menyusahkan negara sendiri. dimana rasa bhinneka tunggal ika? dimana rasa nasionalisme?
apa mau mu teroris? nggak cukupkah perisitwa bom beberapa tahun yang lalu yang udah memporak porandakan Indonesia? gara-gara ulahmu banyak orang susah, banyak orang kehilangan keluarganya, banyak orang kehilangan masa depannya. untuk apa? for nothing. apa yang kau cari? idealisme politik? dengan mengorbankan orang-orang yang tak berkaitan dan mencoreng citra negeri sendiri? i know u are smart, but please your brain to achieve your goals peacefully. (tapi namanya teroris ga pernah jalan damai sih ya hehe). sayang aja sih, Tuhan dah ngasih otak yang cerdas, tapi dipake secara nggak bertanggung jawab. nggak takut ya kalo talent nya diambil sama Yang Di Atas?
terlepas dari apa yang gue rasakan, gue tetep berusaha mengambil sisi positif dari masalah ini. permasalahan dan bencana bisa menyatukan manusia, bisa menyatukan suatu bangsa. semoga aja melalui peristiwa bom ini bisa membuat bangsa Indonesia bersatu untuk membela bangsa dan negaranya dari serangan teroris. bersatu tanpa membeda bedakan agama, suku, ras, dan golongan. semoga juga melalui peristiwa ini bikin para elit politik pemerintahan kita, para capres cawapres, parpol-parpol yang tadinya saling serang jadi bersatu buat membela dan mempertahankan bangsa. (sayangnya gw ga bisa liat ini dari ketua tim sukses pasangan capres cawapres no.1 - sorry to say, tapi menurut gue pernyataan bang sony di konferensi pers itu hanya memperburuk dan memperkeruh suasana, terlepas dari benar nggak benar, pantas nggak pantas nya statement presiden sebelumnya.)
let's pray for Indonesia. siapapun kamu, dari agama manapun kamu, selama kamu masih merasa sebagai orang Indonesia, mari berdoa untuk Indonesia. Kesejahteraan dan kedamaian Indonesia adalah kesejahteraan dan kedamaian kita juga. God bless Indonesia
Friday, September 5, 2008
aku (nggak) bangga jadi orang Indonesia
berhubung baru 17 Agustusan, topik2 nasionalisme banyak diomongin di TV n majalah. salah satunya di Kick Andy.
biasanya g jarang nonton Kick Andy, soalnya emang bukan penggemar TV gt.. hehe.. nonton ya nonton apa yg lagi ada aja, ga yang sampe khusus nungguin buat nonton acara tertentu gt.. hehe..
kmrn ni pas lagi nonton, ada Kick Andy, disitu dibahas ttg nasionalisme. tp unik juga, n bikin g malu sekaligus mikir hehe..
jadi, Kick Andy kali itu tuh ngebahas nasionalisme tapi dari sisi bule2. maksudnya, orang2 bule yang justru lebih peduli sama Indonesia, daripada org indonesia sendiri.
awalnya, ngebahas ttg bbrp bule yang care sama kelestarian suku traidisional Indonesia. ada yang sampe tinggal di Papua, tinggal di pelosok2 gitu karena saking cintanya sama budaya lokal sono. dan ga cuma itu, mereka juga bawa budaya lokal k negara asalnya, bwt dipromosiin di luar negeri. ada juga yg translate literatur2 jawa ke bhs perancis.
ada juga bule yg peduli banget sama kelestarian alam di indonesia. kl ga salah di daerah sulawesi ato sumatra gt.. yg di jawa jg ada kl ga slh.. mereka juga menghabiskan hidupnya di daerah situ, spy bener2 bisa do something bwt menjaga kelestarian hutan.
kalo orang indonesia peduli sama alamnya sendiri, itu wajar. tapi kalo bangsa lain yg peduli sama alam n budaya indonesia? gue sih malu banget pas nonton itu..
ironis ya.. bangsa lain, yang bukan bertanah air disini, justru peduli sama indonesia. malah orang indonesia nya sendiri yang ngerusak tanah air sendiri.
g jadi ngebayangin, kalo ini dibikin film, dengan setting alam dan budaya indonesia, orang2 bule yang jadi "pahlawan" penyelamat alam dan budaya indonesia, tapi orang2 indonesia sendiri yang jadi orang jahatnya. kalo balik ke jaman penjajahan, orang bule2 ini yang jadi pejuangnya, n org2 indonesia yg jadi penjajahnya. aneh kan? ironis, tapi itu bener dan kenyataan. sadly but true.
nggak cuma itu, di Kick Andy juga wawancara ttg 1 org bule yang udah sangat indonesia. ngomong indonesia nya fasih banget, namanya pun udah jadi nama indonesia. dan dy punya orang tua angkat di indonesia.
si bule ini sayang banget sama ortu angkatnya, dy bener2 respek sama mereka.
yang paling bikin malu ya, waktu itu c bule ditanya, "apa sih keinginan u yang terbesar?" dan dia bilang, " g pingin banget bisa jadi warga negara Indonesia. gue bangga banget jadi orang indonesia. gue ga mau pindah ke negara lain, gue cuma mau tinggal di indonesia. plis Allah (i guess he is a moslem), kalo boleh, gue pengen banget jadi warga negara indonesia, karena gue cinta banget sama indonesia"
....speechless...
gue bener2 speechless... malu sekaligus terharu denger itu... ya ampun.. ternyata ada ya orng bule yg bener2 pengen jadi warga negara indonesia, tp org indonesia sendiri malah rebutan bwt dapet PR (permanent residence) di luar negeri.
emang sih, indonesia banyak kekurangan. banyak kejadian yang memalukan. tapi, gimanapun itu kan bangsa dan negara kita sendiri. malu nggak sih kalo yang berjuang buat indonesia justru orang2 yang bukan warga negara indonesia? malu nggak sih kalo ternyata yang cinta budaya lokal indonesia itu orang2 asing yang rela jauh2 buat ngeliat budaya tradisional, sedangkan kita sendiri "anti" budaya n menjunjung modernitas ala barat?
dunia kayanya udah kebalik..
dulu g jg salah satu org yang anti budaya lokal n tradisional. tapi blkgn ini g br sadar, kekuatan kita ya budaya lokal kita yang beraneka ragam itu. dan ternyata, budaya lokal kita itu keren banget loh. dari segi desain, mereka bisa buat something yang unik dan beda2, ga seragam ala modernitas di barat.. dan jangan salah, budaya lokal, kerajinan tradisional itu mahall banget loh.. segala sesuatu yang handmade kan lebih mahal daripada yang mass production.. kemaren ini, di pameran produk lokal di JCC, g ngeliat 1 kemeja batik yang harganya 1 jt lebihhh.. ya ampun.. but i guess it's worthed, karena itu kan batik yang dibuat handmade, n ga gampang bwt itu.. see...our traditional culture n product is equal with even worthed than those mass production product..
ayo cinta produk lokal!! ayo cinta budaya indonesia! ayo bangga jadi orang indonesia! ayo do something buat Indonesia!
kalo bukan kita, siapa lagi? haruskah orang2 bule itu yang berjuang untuk indonesia?
.......jangan tanya apa yang udah di berikan negara kepadaku, tapi tanya apa yang sudah kuberikan untuk negara dan bangsaku....
written on august 22, 2007

