Showing posts with label life-logy. Show all posts
Showing posts with label life-logy. Show all posts

Monday, April 18, 2011

Starting over

It's over now, 

Those 2 -holiday like- weeks are over.  Now, it's time to gather myself up and back to normal life. 

No, no, i dont want to bring my 'old' life back, i want to start over, i want to make something more useful, i want to live a more exciting, blessed, and meaningful life. I want a better life, and i want to be a better me.

I know these are times when i got so inspired that i want to improve almost everything in my life, got so inspired that i feel like i want to learn everything. I also know that i might get bored soon and failed my resolution. But that's ok, at least i tried. If i failed, i can always start over and try again, right :)


So, this is my almost mid year resolution,

I will try to do the extra miles for everything i do; in work, relationship, and in everything. 

I will try to learn something new each day, 

So, by doing one extraordinary thing each day, i hope my life could get more exciting and meaningful.




Friday, March 25, 2011

The XL project -

Sekitar sebulan setengah yang lalu, di gereja saya ada program yang namanya XL Project, Extraordinary Love Project; sebuah program yang terinspirasi dari Project Olaf.

Jadi begini ceritanya, The XL project adalah proyek kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker, terutama yang berada di yayasan anak kanker Rumah Kita di Salemba. Anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu ini usianya masih kecil, yang paling besar saja baru berumur 12 tahun, tetapi mereka sudah menderita kanker dan menghabiskan hari-harinya dengan perawatan dan pengobatan. Rata-rata mereka berasal dari daerah dan datang ke Jakarta untuk berobat, dan Rumah Kita inilah yang menjadi semacam 'rumah singgah' untuk mereka selama berobat di Jakarta.

Inti dari program ini adalah untuk mengajak jemaat pemuda gereja saya untuk peduli dan mendoakan mereka. Caranya dengan menjadi host parent dari sebuah boneka yang nantinya akan diberikan kepada anak di Rumah Kita tersebut. Kepada setiap jemaat yang berpartisipasi akan diberikan sebuah boneka yang melambangkan seorang anak penderita kanker, dan 'tugas'nya adalah untuk mengajak boneka itu beraktifitas sehari-hari dengan harapan mereka akan selalu mengingat dan membawa dalam doa si anak penderita kanker tersebut. Nantinya boneka ini akan diberikan langsung kepada anak yang bersangkutan, beserta foto-foto selama boneka ini bersama si host parent, dan juga hadiah-hadiah kecil dari si host parent.

Ada 20 orang anak yang terdaftar di Rumah Kita saat itu, jadi ada 20 orang jemaat pemuda yang secara sukarela bersedia menjadi host parent dari boneka itu selama sebulan. Jadilah selama sebulan, setiap hari minggu ada aja yang bawa-bawa boneka itu ke gereja, tentu aja untuk foto-foto. Selama sebulan itu juga banyak yang mengganti profile picture di media sosialnya dengan foto bersama si boneka. Dan saya adalah salah satu peserta dari The XL Project.

Karena jumlah peminat host parent yang cukup banyak, saya kebagian jadi host parent berdua dengan temen saya, Agnes. Saya dapet boneka beruang dengan tag nama Dodi, artinya nama anak penderita kanker yang saya doakan bernama Dodi dan berumur 12 tahun. Ini dia si Dodi


Saya belum pernah ketemu Dodi, jadi saya ga tau anaknya seperti apa. Yang saya tau Dodi ini menderita leukimia. Kasian ya, masih kecil udah sakit leukimia. Anyway, jadilah selama sebulan saya dan Agnes bergantian jadi host parent si "Dodi", ajak jalan-jalan, foto-foto, dan ga lupa mendoakan si Dodi. Ini dia sebagian foto-fotonya.










Setelah sebulan lewat, bonekapun dikumpulkan, dan pengurus mengajak teman-teman yang udah berpartisipasi buat ikutan ke Rumah Kita untuk ngasih boneka beserta kado-kadonya dan bertemu langsung dengan anak-anaknya. Awalnya saya males ikut, dan tadinya memang ga bisa juga karena ada acara. Tapi ternyata acara saya batal dan akhirnya saya bisa ikut ke Rumah kita.

Jujur saya ga tau seperti apa anak-anak yang akan saya temui disana, yang terlintas di benak saya adalah anak-anak yang lesu dan pucat karena sakit, dan ga bisa banyak beraktifitas. Tapi ternyata saya salah.

Begitu kami datang, kami disambut dengan sekumpulan anak kecil yang ceria. Mereka tampak excited melihat ada kakak-kakak yang berkunjung, dengan senyum setengah malu-malu mereka menyapa kami, tapi saya bisa melihat binar-binar semangat di mata mereka. Kondisi fisik mereka memang terlihat lebih lemah, cenderung kurus, ada yang memakai perban disini dan disana, ada beberapa yang terlihat lemas,ada yang terlihat kesakitan dan menangis, tapi di luar itu mereka adalah anak-anak ceria yang penuh semangat. (sayang saya ga punya foto-foto mereka, you should look at them and you'll understand what i mean)

Kakak-kakak pengurus Rumah Kita membimbing mereka untuk menyapa kami, dan meminta mereka menyanyikan lagu untuk kami. Salah satu lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu tema mereka, yaitu lagu D Massive yang judulnya Jangan Menyerah. Oh man, mata saya langsung berkaca-kaca mendengar mereka nyanyi lagu itu dengan polos; saya jadi bertanya-tanya, apakah mereka sadar tentang penyakit mereka sebenernya, karena mereka bisa nyanyi lagu itu dengan benar-benar polos, dengan ceria, dan benar-benar menghayati kata demi kata. Mereka bisa tetap tersenyum bahkan tertawa lepas walaupun dengan kondisi tubuh yang lemah seperti itu, mereka dengan semangat mengajak kami bermain dan bercanda, seperti selayaknya anak-anak kecil lainnya. Sungguh, saya benar-benar terharu melihat mereka.

Dan tibalah saat untuk membagikan boneka dan kado. Jadi, setiap boneka dan kado lengkap dengan foto dan surat untuk si anak sudah dimasukkan ke dalam sebuah kantong karton yang sudah dinamai, untuk memudahkan pembagian. Tapi ternyata data awal yang panitia dapat dari pengurus Rumah Kita berbeda dengan data yang ada hari itu. Berbeda, karena itu rumah singgah, jadi anak-anaknya berdatangan dan pergi. Dan rotasinya ternyata cepat, karena dalam waktu sebulan saja sudah bisa berubah banyak. Ada anak-anak yang sudah pulang ke daerah asalnya, ada yang lagi ada di rumah sakit, dan ada juga yang sudah meninggal. Ya, sudah meninggal. Dan siapa yang meninggal?


Dodi ternyata baru saja meninggal seminggu yang lalu. Selain Dodi ada juga Sara yang sudah meninggal. Begitu tau kalau Dodi sudah meninggal, saya seakan shocked, sedih, merasa yang telah saya lakukan sebulan ini sia-sia. Memang boneka dan kado untuk Dodi akhirnya dialihkan untuk anak lain yang belum terdaftar namanya, tapi tetap saja saya sedih; sedih karena kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat saya kenalan secara langsung. Sedih, karena dia pergi dalam usia begitu muda. Yah, memang dari awal ketika bertemu langsung dengan anak-anak itu dan tidak menemukan nama Dodi disana (setiap anak disitu pake name tag btw), terlintas pikiran bahwa Dodi sudah tidak ada. Dan ketika benar mendengar kalau Dodi sudah meninggal, tetap saja saya kaget dan sedih. Oh man...

Begitu boneka dan kado diberikan, mereka terlihat sangat senang. Ada juga yang kecewa karena ga dapet kado seperti yang dia pengen, tapi overall semua tampak senang. Berkali-kali minta difoto, dan beberapa malah lengket dengan teman-teman kami. Ikut senang rasanya melihat anak-anak itu gembira.

Seorang teman cerita, dia ngobrol dengan salah satu ibu tinggal sementara di Rumah Kita itu. Ketika ditanya anaknya umur berapa, si ibu menjawab, "Bulan depan dia bakal berumur 4 tahun, tapi itupun kalo nyampe". Kami sangat miris mendengar jawaban si ibu, dan saya jadi sadar, kalau saya berkunjung kembali kesana sebulan kemudian, belum tentu anak-anak yang saya temui waktu itu masih ada, bisa saja itu menjadi pertemuan yang pertama dan terkahir bagi kami.

Saya jadi merasa kalau masalah-masalah saya ga ada apa-apanya dengan permasalahan hidup dan mati yang dihadapi orangtua dan anak-anak itu setiap harinya. Saya jadi merasa sangat tak bersyukur dengan berkat Tuhan yang sudah diberikan kepada saya. Saya jadi merasa 'bodoh' karena mengkhawatirkan hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup saya. Sungguh, seharusnya saya lebih banyak melihat ke bawah daripada ke atas, dan saya akan lebih banyak bersyukur karena banyak orang yang hidup lebih susah dan menderita dari saya.


Thanks to kubik Gunsa, saya jadi belajar bahwa banyak orang yang ga seberuntung saya

Thanks to Rumah Kita, saya belajar banyak dari senyuman dan tawa riang kalian, saya belajar banyak dari ketegaran dan ketabahan kalian dalam menjalani hidup

Thanks to Dodi dan Sara, saya belajar untuk lebih menghargai hidup dan waktu yang saya miliki dengan orang-orang yang saya sayangi

Thanks to You, for making this happened. For giving me such a blessed experience and for giving me so much blessing in my life.

Thursday, November 18, 2010

Your job could kill you. Seriously!

Yesterday, i got news that one of my bf's colleague has passed away, because of heart attack. The shocking thing is, he was barely 30 years old! He supposedly was too young to have a heart atttack, wasnt he? And you know, just a day before he was still working overtime at his office, one of the big four public accountant office in indonesia. Scary, isnt it?

This, make me think, your job could kill you, seriously. The pressure, the workload, the unhealthy and unbalanced life, bad working environment, those could kill you slowly. Yes i know, we supposed to be strong and not give up easily facing this difficult life and chalenging work, but maybe you should define your limit. You have to hold steadfastly to your priority and life's value, so you could decide which one is important and which one is not. Once your work started to make your life unbalanced, even started to demand to be your first priority, maybe it's time to rethink and evaluate your life's value. Is your job, your position and your career worth more than your relationship, your health, even your life?

Think and decide wisely! Your money, your position, and your pride wont do any good if you dont have family and special person beside you, or you dont have health to enjoy all of it.

And for those whose friends, family, or beloved ones are trapped in difficult and stressful job, maybe it's wiser to not pushed them too hard, or demand them. Because, you'll never know someone's limit, just support them and be there whenever they need you. While praying they could just choose well, not giving up easily nor stubbornly holding their job.

Sigh. Life is really very short. You could live one day, and the next day you'll be gone. Scary.



*Yes i know, there are many possibilities why my bf's colleague got heart attack, but as far as i know, lots of stress could be one of the trigger. And as far as i know, working at the big four public accountant company is really a stressful work, not everyone could handle it well. So, i just think and write down the possibility :)

Tuesday, November 9, 2010

takdir, believe it or not?

Percayakah kamu akan takdir?
atau kamu percaya bahwa kamu menentukan hidupmu sendiri

Percayakah kamu akan jodoh?
atau kamu percaya bahwa jodoh itu pilihan

Percayakah kamu akan nasib?
atau kamu percaya bahwa nasib itu masalah keteguhan hati

Mengapa ada orang baik dan tulus yang hidupnya susah, dan mengapa ada orang licik yang usahanya selalu berhasil?

Mengapa ada orang egois yang dikelilingi banyak cinta, dan mengapa ada orang berhati besar yang hidup tanpa pendamping?

Kesuksesan tak pernah dapat diraih tanpa usaha keras, disiplin, dan keteguhan hati.
Di sisi lain, sekeras apapun usaha, disiplin dan tekad kita, selalu saja ada kemungkinan untuk gagal.

Diri sendiri dan orang lain tak akan pernah cukup untuk menjamin keberhasilan kita.
Begitupula dengan keteguhan hati, disiplin, dan kerja keras.

Tak pernah akan cukup.

Sepertinya selalu ada faktor T dan faktor A dalam segala hal. Selalu ada campur tangan Tuhan dalam segala sesuatu dan Anugerah yang memungkinkan kita mendapat hal yang sebenarnya tak layak kita dapatkan.

Entahlah..

Terlalu banyak mikir bikin hidup lebih ribet

Monday, November 1, 2010

Create moment and say good bye to a boring life

I am the type of person who get bored easily. When i have nothing to do, i feel guilty and i could feel like my life is worthless, because i dont have anything special and extraordinary to do while everyone else is busy pursuing their dream. I feel like there is something wrong with me. But recently i realized something, moments could help me getting rid of any ordinary day.

I just realized that i love moments. I love when i have special event and special day. "Special" doesnt have to be grand, "special" for me is as simple as giving meaning to any ordinary day.

Last monday was special because it was Monday, November 1st. It's 011110. It's the first day of the week and it's also the first day of this month. So, it was really a good chance and perfect time to make something new, something extraordinary. You see, it's only a state of mind. Though at the end of the day i didnt have any extraordinary things to do, at least i was excited to live that day.

You know, with a little creativity and imagination, we could make everyday special (at least for us) Just by putting meaning on each day. For example, i could make today is a special day by thinking it is 15 month 19 day after my bf and i first started our relationship, or it's November 2nd, and about a month and half later i'll have my birthday (haha). Things like that could make today special. You could think of anything to give meaning to your day.

Doing new simple things each day also can make our day extraordinary. Take different route to your office, take public transportation only for today, or drive by your own just for today, cook different menus that u have never tried before, chat with old friends, or even chat with new people. Try doing something new, even it's a small simple thing, could give new meaning to our day, making our day special and extraordinary.

At least it works for me, to help myself getting excited going through each day, and trying to make my life worth living.

And dont forget to be grateful in everything. It's not easy, but at the end grateful feeling could make you feel richer and happier. Because gratitude could make u realized how much blessing have been given to you all of this time. He's good, and always good.

Happiness is a choice, and it's a state of mind.

Happy sweet November, friends! Hang on, it's only a month left before Christmas and holiday
season! :D

Tuesday, October 5, 2010

"gue kan pengen cepet-cepet mati!"

kata bibi yang suka cuci gosok di rumah ketika ngobrol dengan temannya di telepon.


Kalimat itu diucapkan dengan ringan, tanpa beban, dan sambil becanda. Tapi sepertinya dia serius dengan ucapannya.

Benarkah semudah itu untuk berhadapan dengan kematian, bahkan untuk orang yang udah kenal Tuhan?

Ketika hidup seperti udah ga berarti lagi, udah ga ada tujuan hidup, dan masalah begitu banyak dan bertubi-tubi, apalagi jika ditambah kondisi tubuh yang sudah menua dan tak lagi bisa melakukan banyak hal, bisa saja "mati" menjadi pilihan yg terlihat lebih baik, lepas dari semua masalah hidup dan keterbatasan. Benarkah?

Nyatanya, banyak pula orang yang ketika benar-benar dihadapkan pada kematian malah takut setengah mati. Takut untuk mati, tapi enggan pula untuk hidup. Lalu harus bagaimana?






Ketika "mati" menjadi pilihan yg lebih menggiurkan, think again! Bayangkan ketika benar-benar dihadapkan pada kematian, apakah masih dengan senang hati menyambut kematian? Pikirkan lagi orang yang berjuang setengah mati untuk bisa hidup.


Afterall this life is not yours, and it's not you who can decide to end your life.

Thursday, September 30, 2010

Twisted wise words

People say, a true friend is someone who'll be there for you in the time of sadness, when you're down. Lots of people will laugh with you willingly when you are happy and successful, but few will cry with you in your darkest time.

Is it true?

If it was true, why did i feel the opposite? It's not always, but it does happened.

When i was sad, troubled, and when my life was filled with problems, many of my friends would give their sympathy, try almost everything to cheer me up, and say they would be there for me, if i needed them. And i was really glad for that.

But, funny, when i was happy, glowing, and have lots of happiness to tell them, seems like they werent there. Sometimes, it's harder for me to find friends to share my happiness than to share my burden with. Sometimes, it's harder to find people who are really willing to laugh (the pure laugh and happiness) with you, and be happy for you. Call me sceptic, cynical, or else, i just wrote down what i felt.

Seems like everyone's too busy with their own problems, or taking care of those who are troubled, so then they dont have time for those who are glowing with happiness. Probably they thought, they are happy already, so they wont need others to cheer them up. True, but those who are happy still need their friends to share their happiness with. Dont they?

Sometimes, it's easier to cry with the troubled ones, than to laugh with the successful ones. Because, some part of our egoistic self feel grateful somehow knowing that there is somebody else who is more miserable than us, which has a lot more difficult life than our own.

On the other side, it's not that easy to laugh and to be happy with those who are having their successful moments, or accomplished their goals. Because, somehow, other's accomplishment could remind us of our own failures, and it could make us even more miserable.

Life is funny somehow. I think every theory works both ways.

Well, it's just my thought. Im not judging anyone (forgive me if anyone feel offended).
It's just my way to rationalize in order to accept this (what i called) twisted wise words.

What do you think?

Wednesday, September 15, 2010

Riskan sih, tapi kayanya seru. Pilih mana?

Masih berhubungan sama postingan sebelumnya (bisa dibaca di sini), kali ini topiknya antara pengalaman,tantangan, dan excitement versus resiko dan logika, pilih yang mana? Do you dare to take the risk?

Jadi inget acara tv dulu, Fear Factor, dimana orang ditantang untuk melakukan hal-hal yang (sepertinya) ga logis. Tapi kalo dipikir-pikir lagi sih, fear factor masih aman, soalnya tantangan itu kan disiapkan secara profesional, dan mereka pasti udah memperhitungkan resiko beserta penanggulangannya. Tapi gimana dengan tantangan yang murni tantangan?

Waktu saya ke pulau Tidung akhir Juli yang lalu, disitu ada semacam "tantangan" (walo sebenernya sih ga ada yang nantangin juga), yaitu lompat dari jembatan yg ada disitu. Ketinggiannya sih katanya 4m, dari jembatan sampai ke permukaan laut. Dan "wahana" lompat dari jembatan itu sangat terkenal, sampe-sampe di logo atau brosur tour yang ngurusin trip ke tidung itu ada gambar orang loncat dari jembatan juga.

Sebenernya sih, nothing special dengan loncat dari jembatan itu. Jangan bayangkan bungee jumping, dimana ada alat pengaman berstandarisasi, dan tim pengawasnya. Yang di pulau tidung ini murni cuma ada jembatan, dan air laut. Dan orang yang terjun dari jembatan itu bener-bener terjun dari pinggir jembatan, tanpa pengaman apa-apa. Memang sih, kedalaman air di daerah tsb cukup dalam, dan ga ada batu-batu yang membahayakan, tapi tetep aja ga ada pengaman yang bisa bikin kita berasa aman.

Im not the risk taker type. But im kinda an adrenaline junkie. (haha berlawanan ya) Dalam hal-hal tertentu saya ga suka mengambil resiko, walaupun resikonya sekecil apapun. Tapi untuk urusan kaya gini, yang berhubungan sama adrenaline rush ini, entah kenapa saya cenderung nekat, rasa ingin tahu dan ego saya bisa mengalahkan ketakutan saya. Tapi secara otomatis saya pasti berpikir banyak sebelum memutuskan untuk loncat. Saya mikir semua kemungkinan yang ada, apa kemungkinan terburuk, dan kira-kira berapa persen kemungkinan saya selamat setelah loncat dari jembatan itu hahaha.

Dan akhirnya sayapun mutusin buat loncat. Kenapa? Pertama, karena mungkin aja itu cuma kesempatan sekali seumur hidup, karena saya belum berniat untuk ke pulau tidung lagi untuk kedua kalinya. Jadi, mumpung udah disana, setelah melewatkan sekian jam perjalanan yang melelahkan, kenapa ga sekalian dicoba aja. Toh ngeliat medan nya cukup aman, paling ga menurut logika saya. Dan toh orang-orang udah banyak yang coba dan mereka baik-baik aja. Kedua, karena teman-teman saya ada yang ingin loncat. Kalau udah kaya gitu, muncullah ego, dan rasa ga mau kalah itu hahaha. And here we go, ini dia fotonya. Sekalian buat yang belum pernah kesana jadi bisa ngebayangin lokasinya. (Courtesy to Kwok Albert)


Setelah loncat, ada rasa puas banget. Puas karena berhasil mengalahkan ketakutan, puas karena udah tau rasanya loncat dari jembatan, dan puas karena ga semua orang berani melakukan "tantangan" itu hahaha. (See, sangat bahaya sebenernya ketika ego udah mulai bermain).

Tapi, setelah balik ke Jakarta, dan setelah tau ada teman yang sukses sakit selama seminggu setelah pulang dari tidung (padahal dia ga loncat dr jembatan, lho), saya jadi mikir lagi. Sebenernya, loncat dari jembatan itu bisa bikin saya kenapa-kenapa. FYI, kuping saya agak sakit setelah loncat, mungkin karena tekanan, tapi thanks God rasa sakit itu cuma sebentar. Saya jadi baru terpikir kemungkinan-kemungkinan lain yang ga kepikir sebelumnya. Gimana kalo waktu mau loncat saya kepleset, jadi jatuh dalam posisi yang salah, atau terbentur pinggir jembatan? Gimana kalo posisi "mendarat" salah? Gimana kalo sakit di kuping itu berkepanjangan? Kan konyol banget ya, kalo sampe sakit ato luka-luka (apalagi luka dalam) cuma gara-gara loncat dari jembatan tidung. Saya jadi bersyukur banget, masih disayang dan dijagain sama Tuhan. Anything can happen in a split second.

Lanjut ke cerita yang kedua. Weekend kemaren saya pergi ke Curug Panjang, Megamendung, acara kebersamaan di gereja saya. Disitu kita dibagi menjadi beberapa kelompok dan ngelakuin river tracking, menyusuri jeram di sepanjang curug itu. Medannya cukup berat, karena kita melewati jeram yang berarus cukup deras, bahkan kadang melawan arus, dan di sepanjang jeram itu isinya batu-batu licin dan tajam. Memang sih kita pake live vest, dan ada ranger untuk masing-masing kelompok tracking. tapi menurut saya sih tetep aja bahaya, soalnya kalo sampe jatuh ato kepleset bisa kebentur batu-batu tajam itu. but again, thanks God, we're all okay.

Bukan river tracking nya yang saya ingin ceritain, tapi disitu lagi-lagi ada "tantangan" loncat, kali ini loncat dari batu-batuan setinggi kira-kira 2m, ke jeram berarus deras. Phew. Ternyata banyak ya orang-orang yang suka nyari tantangan aneh-aneh.

Seperti di Tidung, disini juga ga ada pengaman apa-apa untuk loncat. Malah lebih bahaya sebenernya, karena untuk bisa loncat, kita harus manjat bebatuan licin dan tajam itu, tanpa pegangan, tanpa pengaman, dan tanpa pengawas (kalo di tidung kan tinggal naik jembatan, gampang aksesnya).

Malam sebelumnya, teman saya cerita tentang orang yang loncat dari tempat seperti itu (saya agak lupa, dia loncat di curug panjang itu atau loncat dari tempat yang mirip-mirip kaya gitu), dan ternyata entah kenapa posisi mendaratnya salah, dan mukanya terbentur batu sehingga robek dan terbelah jadi dua. HIII...horor abis.. padahal orang-orang sbeelumnya yang loncat baik-baik aja. Gara-gara cerita temen saya itu, saya jadi mikir berulang-ulang buat loncat dari batu-batu itu.

Tapi pas keesokan harinya dan pas beneran tiba di lokasi, saya jadi kepengen lagi. Pengen tau rasanya, lagian, banyak orang juga yang nyobain loncat. Tapi sayangnya (atau untungnya), kelompok kita ga dikasih buat nyobain loncat, karena banyak kelompok lain yang menunggu di belakang kita. Padahal kelompok sebelum kita pada sibuk nyobain loncat. Agak kecewa sebenernya, tapi dalam hati cukup bersyukur karena paling ga saya ga perlu dilema untuk mutusin mau nyoba loncat ato ga. Saya cukup yakin sih, kalo kelompok saya dikasih kesempatan buat loncat, saya pasti termasuk orang-orang yg nekat mau nyoba loncat, walaupun saya tau kali ini resikonya cukup besar hahaha.

Dan ternyata resikonya memang cukup besar. Rombongan kelompok-kelompok terakhir akhirnya dikasih ijin sama panitia untuk loncat dari batu, dan ternyata, salah seorang dari mereka ada yang terpeleset ketika memanjat batu tersebut. Serem banget! Saya memang ga liat kejadiannya, tapi membayangkannya aja seram. Thanks God teman saya itu ga kenapa-kenapa, hanya kakinya saja yg terbentur batu dan terkilir, tapi di luar itu dia baik-baik saja. Duh, saya sih ga kebayang, kalo udah terpleset kaya gitu kan bisa kemungkinan terjadi macem-macem, bisa kena kepala, ato bagian-bagian tubuh lain yg bikin luka dalam. Dan untung juga dia paje live vest, jadi ga sampe keseret arus ke bawah. Bener-bener bersyukur deh dia ga kenapa-kenapa.

Buat yang ga kebayang lokasinya, ini dia fotonya. (Courtesy to Kompa GKI Gunsa)



Ketika tantangan dan excitement dihadapkan dengan resiko, mana yang dipilih? Memang, kalo terlalu takut ambil resiko, hidup jadi ga fun, kalo terlalu takut akhirnya malah ga pernah nyoba pengalaman baru dan seru. Orang bilang, justru yang menantang itu yang makin bikin exciting, dan tantangan itulah seninya. Makin menantang makin seru. Tapi apa iya? Namanya resiko kan bisa aja terjadi, sekecil apapun itu. Anything can happen in a split second. Do you dare to take the risk?

Well, saya juga selalu dilema kalo dihadapkan sama 2 hal ini. All i can say is, choose well. Pikirin baik-baik semua kemungkinan dan resiko yang ada, dan apakah pengalaman dan excitement yang didapat sebanding dengan resikonya. Keputusan di tangan anda, yang penting, jangan pernah menyesali apa yang telah diputuskan.

Live life to its fullest, just dont forget about its consequences.


Tuesday, September 14, 2010

Kepo itu (bisa) bahaya!

Pernah denger istilah curiosity kills the cat? Walo saya ga ngerti apa dasar 'filosofi' dibalik istilah itu, dan apa kenapa harus kucing (duh!), tapi belakangan saya merasa istilah itu ada benarnya. Keingintahuan berlebih bisa membahayakan. Kepo, bisa mematikan (dalam tingkat ekstrim).

Orang bilang, hidup cuma sekali, jadi cobalah hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Well, ada benarnya, tapi ga sepenuhnya tepat.

Saya orang yang tergolong punya rasa ingin tahu yang gede. Ingin tahu dalam arti saya sering ingin ikut mencoba hal-hal yang dilakukan orang lain. Kalau banyak orang yang melakukan, dan mereka menikmati, saya jadi ingin tau apa rasanya, walaupun sebenernya saya takut. I can do anything just to get the experience and the sensation. Contoh paling gampang, water sport yg butuh keberanian lebih sperti flying fish, extreme ride, bungee jumping (walo belom pernah coba), dan yang terakhir, loncat dari jembatan di pulau tidung. Sebenernya saya agak takut ketinggian, but for the sake of getting that experience and sensation, i would do it, karena belum tentu juga saya akan dapet kesempatan yang sama 2 kali. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mengalahkan ketakutan. Somehow, i like adrenaline rush sensation.

Tapi, keingintahuan saya juga termasuk akan hal-hal yang tergolong dalam area abu-abu. Rokok, clubbing, minuman alkohol, dsb. Keingintahuan saya cuma satu, apa sih rasanya, sampe orang-orang bisa kecanduan? I know, sangat bahaya rasa ingin tau seperti itu. Ga sedikit orang yang kecanduan berawal dari rasa ingin tau dan coba-coba. I know that very well, cuma tetep aja, rasa ingin tau itu masih ada.

Pacar saya sampe bilang, saya harusnya bersyukur masih dilindungi Tuhan, dan berkat doa orangtua saya, sampe saat ini saya dijauhkan dari hal-hal kaya gitu, jadi walo saya ingin coba sekalipun saya ga punya kesempatannya. Well, i think that's true. cuma karena Tuhan masih sayang sama saya aja saya dijauhkan dari hal-hal itu.

Satu hal lagi, ketika udah pernah nyoba, udah pernah tau rasanya, "rasa" itu lebih sulit dihilangkan daripada mereka yang ga pernah coba sama sekali. Bingung? Contoh, orang yang udah pernah pacaran (mungkin) akan merasa lebih kesepian dibanding orang yang belum pernah pacaran sama sekali. Karena orang yang udah pacaran tau rasanya ada pendamping, dan ketika pendamping itu udah ga ada, "rasa" itu akan lebih susah dihilangkan. Orang yang pernah minum-minum alkohol akan lebih sulit untuk berhenti dibanding orang yg ga pernah minum sama sekali. karena orang yang udah pernah, udah merasakan sensasi dan rasa yang ditimbulkan alkohol, sehingga lebih mudah untuk kecanduan.

So guys, (including myself), kalo kamu merasa ga kuat iman, dan belum punya pengendalian diri yang kuat, jangan coba-coba hal-hal yang bisa bikin kecanduan. Terlalu banyak orang yang akhirnya membuang-buang hidupnya, hanya karena diawali coba-coba, cuma karena iseng. Orang yang ga berniat macem-macem aja bisa kecanduan, gimana yang diniatin?

Ati-ati ya sama yang namanya "rasa ingin tahu" dan "kepo". Saya juga lagi belajar ini, memang ga gampang, tapi daripada ujung-ujungnya nyesel, mending ga pernah nyoba sama sekali. Buat apa tau rasanya, tau sensasinya, tapi pada akhirnya malah jadi kecanduan. Kalo ga pernah nyoba, ga ada ruginya juga kan?

Monday, August 16, 2010

Babbling, mumbling, whatever

Recently, i feel like i have no one to talk to. I know i should be the one to innitiate the conversation, to tell someone that i need to share what's inside me, and to be listened. But, somehow i feel like everyone's having their own problems, and seems like their problems are far more complicated than mine, so i shouldnt be bothered them even more by my problems, if they truly are problems.

I dunno if it's just me being melancholic, or else. Sometimes i feel that i always try my best to be there for others, for my loved ones. If i feel that they're having problems, or kinda in a bad mood, i ask them, if they're okay, and what happened to them. Ask them about their life, and about their daily stuffs. I do that because i love them, and i just wanna be there for them. I wasnt expected anything in return, actually. Just do that to show them that i care. But, sometimes, my egoistic and melancholic part want them to treat me like i do to them. To merely ask me about my day, to ask me if i am okay, and to initate the conversation. But sadly, again i have to face the truth that you cant expect anything from anyone.

I didnt tell them my problems just because i didnt want to bother them. On the other side, they think that i was too happy, and having no problem at all, so they didnt feel like telling me their problems, coz they think i wouldnt be able to understand them; my -problem-less life wouldnt understand their full-of-problems' life. Sometimes life could be really funny, couldnt it?

Knowing somone's problems sometimes could make me hesitate to tell them about mine, coz, compared to theirs, my problems seems like so tiny, and i shouldnt be fuzzed about that. Well, i am trying my best to handle my own problems, what's inside my head, and on the same time, supporting others for their problems. But, sometimes i just need a pair of ears who are willing to listen to me. Not halfheartedly, not to tell me what to do, but just to truly listen to me; without i need to ask. but maybe i am just asking too much. Coz people said, they are not mind reader, you need to ask them what you need them to do. Yes, i understand that, but, cant i just wish that sometimes they would understand, without i need to ask? No? Oh, hell, whatever.

You know, sometimes, a simple "Hello, are you okay?" could really brighten my day and my mood. Just to be reminded that i am remembered and loved.

But again, somehow, life is all about understanding others, without really expecting to be undestood. Isn't it?

Monday, July 19, 2010

suddenly

....
suddenly,
missing days of my younger life

days when I could just play around,

days when I could laugh, cry, dance wholeheartedly,
without really have to think about the future

days when I could live freely, experimentally, doing mistakes,
without really have to think about the consequences
...

and suddenly,
Beatles' song "Yesterday" keep playing in my mind
'Yesterday, All my troubles seemed so far away, '

...

and now i promise to myself,
while i still get a chance,
i will live and love wholeheartedly

My youthful life only come once, and it would never come back.
So, let's live, love, and enjoy life.

Because it's God's greatest gift

Wednesday, June 30, 2010

Love you or love me?


"Aku sayang kamu",

bukankah itu berarti aku sayang dirimu, dengan seluruh keberadaanmu, termasuk semua kekurangan dan kelebihan, latar belakang keluarga, keanehan sikap dan perilaku, dan keajaiban pemikiran;

bukankah itu yang namanya sayang sama kamu, apa adanya kamu?

jika tidak demikian, maka seharusnya "aku" berkata,

"aku sayang sama perhatianmu, sama selera humormu, sama kharismamu, tapi, aku nggak sayang kalau kamu lagi cuek, nyebelin, terlalu idealis, atau terlalu dominan";

jika tidak demikian, "aku sayang kamu" kurang tepat,

karena kata "kamu" seharusnya mencakup kelebihan dan kekurangan, keseluruhan diri, bukan hanya memilah-milah kondisi dan sifat dari "kamu"

ketika bilang "aku sayang kamu", berarti "aku" bilang "hei kamu, walaupun kamu kadang nyebelin, cuek, terlalu idealis, atau terlalu dominan, aku bisa menerima dan mau mendampingi kamu"
Tetapi sayangnya, seringkali yang terjadi tidak demikian,

"aku sayang kamu" memiliki makna tersirat, "aku sayang kamu kalau kamu baik sama aku, perhatian sama aku, mau ngertiin aku, tapi kalo kamu lagi nyebelin, aku nggak sayang sama kamu."


then, kalo kaya gitu, "aku sayang kamu" atau "aku sayang aku"?


ketika si "aku" dibuat tak nyaman, marah, dan emosi oleh si "kamu" (sengaja ataupun tak sengaja), bisakah kata-kata "aku sayang kamu" bisa tetap terucap dengan sepenuh hati?

ketika si "kamu" tak berbuat seperti yang si "aku" inginkan, begitu mudahnya keluhan dan omelan keluar dari mulut si "aku", bahkan semudah ketika si "aku" mengucapkan "aku sayang kamu"

atau, ketika ego si "aku" sudah terusik, maka semua kata sayang dan cinta yang pernah terucap hilang entah kemana, yang ada hanyalah pertanyaan "Kok kamu gitu sih?" yang sebenarnya bisa berarti, "kok kamu ga mau ngertiin aku sih? kok kamu ga seperti yang aku harapkan sih?"


Aku, aku, aku, dan aku...

Jika semua tentang "aku", apa arti dari "sayang" dan "kamu" sesungguhnya?



it's easy to talk the talk, but can you really walk the walk?


Tuesday, May 18, 2010

worried too much?

this morning, i read a beautiful article about worries. and it truly blessed me. i dont know why i cant paste this article here, but please do read this article (klik here), especially for those who have been worried too much.

i must admitted that sometimes, i am worried too much. and it makes me restless. too much thinking and too much worries isnt good for your health.

I do know that I have extraordinary God, very powerful, Almighty, and nothing is impossible for Him. but the worries still there.

i also know very well that, if i was worried too much, that's means i havent truly believed in Him, in His power. and really, it's a shame. too much blessing, too much help He has been given to me, and yet i still doubted Him? such a shame. He is never be late. He makes everything beautiful in His time. not mine. yet, why do i still worry?

forgive me Lord, i know i shouldnt be worry, at all. Please help me learning to let go. to let You do Your works in my life.

worried too much? dont be. life is too short and too meaningful for that!

have a blessed day, readers!

Sunday, April 18, 2010

untuk apa berumur panjang?

sedang merenung,

untuk apa ya kita berdoa minta umur panjang sama Tuhan, sedangkan sebenarnya di usia tua yang ada hanyalah kesepian, kesakitan, dan ketidakberdayaan?

Kesepian; anak, cucu semua sibuk dengan urusan masing-masing. Ketikapun pada akhirnya mereka datang mengunjungi, terkadang mereka terlalu sibuk berbincang satu sama lain dan tidak memedulikan si orang tua. Terkadang mengobrol dengan orang tua menjadi sesuatu yang membosankan, karena hanya berisi cerita yang sudah puluhan kali diulang-ulang, dan pembicaraan panjang yang tak ada habisnya. Di tengah keramaian, bahkan di tengah kunjungan anak cucu sekalipun kesepian itu tetap ada. Harapan satu-satunya hanyalah pasangan hidup, yang sama2 sudah renta, untuk berbagi kisah hidup yang tiada habisnya.

kesakitan; semakin tua, semakin banyak penyakit menggerogoti, diiringi penurunan daya tahan tubuh, penurunan kemampuan daya serap panca indera, penurunan kondisi kesehatan. Penyakit 'modern' yang begitu banyak siap menerkam. tak terkena penyakit itupun masih harus tetap menerima kenyataan bahwa fisik tidak lagi sekuat dulu, telinga tidak sepeka dulu, lidah tidak selancar dulu untuk berbicara, dan pandangan tak lagi setajam dulu. bahkan, alat bantu panca inderapun dibutuhkan, disamping alat bantu lainnya. dengan kondisi tubuh menurun seperti ini, apa lagi yang bisa dilakukan?

ketidakberdayaan; ketika muda, ketika kesepian itu datang toh masih ada seribu hal yang bisa dilakukan. pergi bersama teman, melakukan hobi ataupun hal-hal yang disukai. tetapi ketika tubuh semakin renta, semakin banyak penyakit menggerogoti, apa yang dapat dilakukan? kegiatan fisik seperti olahraga berat sudah pasti tidak mungkin dilakukan, jalan-jalan juga sulit, stamina tidak lagi seperti dulu, kegiatan yang dulu menjadi hobi dan kegemaran pun sulit dilakukan karena penurunan panca indera. jadi apa yang tersisa untuk dilakukan? tak ada orang untuk diajak bicara, tak ada kegiatan yang bisa dilakukan, sementara tubuh menderita karena penyakit dan penurunan daya tangkap indera dan daya tahan. sungguh tak tau apalagi yang dapat dilakukan.





lalu,

untuk apa kita berdoa minta supaya orangtua kita, orang terdekat kita diberi umur panjang, ketika kita bahkan tak mau menyediakan waktu untuk mereka, untuk sekedar melihat keadaan mereka, menelpon menanyakan kabar, menyediakan telinga untuk mendengar cerita mereka yang sudah diulang beribu-ribu kali, dan untuk membantu melayani kebutuhan mereka akibat kondisi fisik yang semakin menurun?

ketika kita berdoa dengan "egois"nya meminta umur panjang untuk mereka, tapi dengan tega membiarkan mereka, -orang-orang yang seharusnya sangat kita sayangi itu- tenggelam dalam kesepian, kesakitan, dan ketidakberdayaan?


ketika hari-hari hanya diisi dengan rasa sepi, kosong, dan rintihan rasa sakit, apalagi arti dari umur panjang itu sendiri?



*dedicated to my beloved grand mothers, and grandfather whom i love very very much, but sadly i havent done my best to help them feel alive, and to feel grateful for their well being in their late age.

Tuesday, April 13, 2010

when i'm felling blue



Couple of days ago i was told that one of my friend has lost her boyfriend. Her boyfriend has passed away.

I was shocked. Speechless. Though she isn't a close friend of mine, tho i didn't know her boyfriend, still, i feel bad for her. Really.

I couldn't imagine how it would feel to be like her. And honestly, i am praying hard so He wont let that kind of thing ever happened to me. Please God, if i could ask, please don't let that thing happened to me. I don't think i could handle it.

I couldn't imagine losing someone so fast and so suddenly. As far as i know, her boyfriend has only been sick for a day, and the next day he has passed away. So fast. Without any chance to really say goodbye. Oh my.

And, i guess this bad news was the reason why i'm feeling blue recently.

I shed a tear when i watched some local movies on TV yesterday, without really knew why i was crying. I even wasn't in a bad mood nor in a gloomy mood yesterday. Just something in the movie, the love and the sweetness that touched my heart, somehow. Duh. silly me. I never ever cried for that kind of movie before.

Goodbye.

I think deep down in my heart i hate this word more than i knew. Saying goodbye is never easy. And usually it left me with a kinda melancholic mood for a couple of times afterwards.

One of my biggest fear is losing someone who is precious to me. My family, my closest friends, my boyfriend. Sometimes i even wish that i would left earlier than them, so i wouldnt have to feel the sadness, the loss. But i know it was a very egoistic wish. Life is merely a gift from God. And all the living people still have missions to accomplish before they are going home. Many people struggling to live, and who am i, wishing for a chance to leave sooner than my dearest ones? No, i still want to live as long as He let me to. As long as He still has a mission for me to accomplish, whatever it is.

Still, i hate to say goodbye. I hate to feel the loss. Especially when death really do us apart.

But, what can i do? The time will come, sooner or later, and we really don't know how much time left for us being together.

I know, i know, things like this should have reminded me that we really are immortal creatures. And we should have be grateful for our togetherness, our moments together, for a chance that still left for us.

Again, i was reminded that i should cherish every moment i have, with anyone, for i dont know if i could see or meet them again.

At least i still get a positive thing for this melancholic mood haha.


For my friend who has just lost her boyfriend, I really don't know what to say. Deep condolences. I'm really sorry for your loss.



And, btw, thinking and writing like this also make me miss someone. I miss you :)

Monday, April 5, 2010

only human?

Mbok Kerti menangis dan meratap ketika diberitahu bahwa cucu satu-satunya, Cutti, menjadi korban mutilasi seorang psikopat. Dengan kesederhanaan pemikiran seorang tua yang beriman, Mbok Kerti mulai bertanya dan protes kepada Tuhan. Ia mulai mempertanyakan maksud dan keadilan Tuhan dibalik semua masalah kehidupan yang menimpanya. Hidup seperti tidak adil untuknya. Selain hidup bergelut dalam kemiskinan, Cutti merupakan satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya. Suaminya meninggal ketika ia sedang hamil tua. Menantunya tewas ketika bekerja di negeri orang, anaknya pun dipanggil pulang oleh yang Maha Kuasa. Seberapapun besar imannya, toh Mbok Kerti masih manusia biasa yang punya perasaan. Manusia biasa yang bisa merasa sedih, marah, kecewa.

"Ternyata Mbok Kerti tak lebih dari seorang hipokrit. Munafik!" Gareng berkata tanpa tedeng aling-aling.

"Dimana Mbok Kerti yang tegar, sabar, dan bisa jadi inspirasi buat orang lain? ternyata ketika punya masalah, Mbok Kerti sama aja seperti orang lain yang bisanya menyalahkan Tuhan". Bagong menambahkan dengan pedas.

Punakawan sebenarnya datang untuk menghibur Mbok Kerti yang baru saja kehilangan cucunya. Tapi bukan kata-kata hiburan yang diterimanya, Mbok Kerti malah mendapat kata-kata pedas dan keras.

Dengan emosi, Mbok Kerti bilang, "Saya kan juga manusia biasa!"


Itulah cuplikan drama di acara paskah gereja saya kemarin. Drama dan khotbah paskah yang sukses membuat saya berpikir,

Benarkah alasan 'im only human' boleh dipakai untuk mentolerir rasa marah dan kekecewaan kita terhadap Tuhan?

Ketika seseorang merasa kecewa dan marah terhadap Tuhan, dalam pelayanan, dalam hidup, apa yang harus dilakukan? Membiarkan rasa itu ada dan sembuh dengan sendirinya, atau menekan rasa itu dan bersikap keras terhadap diri sendiri; dengan alasan kita 'cuma' hamba-Nya, yang bahkan ga punya hak apa-apa. Tuhan sudah memberi terlalu banyak, dan kita bahkan GA BERHAK untuk mengeluh.

Seems like unfair, ketika manusia diberi kemampuan untuk merasakan dan mempunyai perasaan, tetapi tidak boleh merasa kesal dan marah kepada Tuhan. Ketika seseorang dituntut untuk menekan perasaannya yang terluka karena kelakuan rekan sepelayanannya, dengan alasan "itu yang namanya pelayanan. kita kan cuma PELAYAN, namanya hamba ga punya hak buat protes. Tuhan aja mau ngampunin dosa kita yang segitu banyaknya, masa kita ga mau ngampunin kelakuan temen kita yang cuma segitu doank? Jangan balas kejahatan dengan kejahatan. kalo ribut cuma gara-gara hal sepele gitu, apa bedanya gereja sama perusahaan?"

Ketika pelayanan itu menjadi berat, dan rasanya ingin mengeluarkan beban di hati dengan berkeluh kesah dan bercerita kepada orang lain, tetapi enggan karena pada akhirnya respon yang didapat hanyalah berupa nasehat untuk menguasai diri dan menekan perasaan. Nasehat untuk jangan manja, jangan terbawa perasaan, jangan terbawa situasi, dan nasehat-nasehat lain mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Bukan penghiburan ataupun pengertian yang didapat melainkan nasehat yang keras, ataupun komentar yang tak diinginkan.

Kalau gitu untuk apa ya Tuhan memperlengkapi manusia dengan yang namanya perasaan?

Saya tau, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tentu aja yang saya maksud di atas bukan kemarahan yang meledak-ledak ataupun emosi yang tak terkontrol terhadap Tuhan maupun sesama. Pertanyaan saya, sejauh mana manusia diijinkan merasa kecewa dan marah terhadap Tuhan maupun sesama? Atau justru rasa marah dan kecewa, terutama terhadap Tuhan, itu sama sekali tidak diperbolehkan?

Benarkah tidak pernah ada istilah 'terlalu keras pada diri sendiri', karena pada dasarnya setiap orang harus memacu dirinya untuk punya mental yang kuat, terus bangkit, dan mengembangkan dirinya?

Ketika seseorang bercerita, bukankah dia sebenarnya ingin didengarkan, bukan dikomentari ataupun diberi solusi? Solusi pemecahan masalah mungkin akan sangat berguna, tapi bukankah lebih berharga jika pertama-tama kebutuhan untuk didengar dan dimengerti telah terpenuhi? Tapi seringkali respon orang-orang adalah sibuk memberi komentar, saran, nasehat tanpa benar-benar mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan dan permasalahannya. Padahal, seringkali seseorang sudah tau dengan persis apa yang harus dilakukannya, dia hanya butuh didengarkan, dimengerti, dan dihibur, tanpa perlu dikomentari atau dinasihati.

Ketika kita terus berkomentar dan menasehati orang lain, ketika kita terus berkata apa yang seharusnya seseorang lakukan, apalagi ketika kita terus berkata, "Kamu harus kuat. Kamu harus bangkit, ga boleh lama-lama mellow kaya sekarang. Kamu tuh harus do something" bukankah sama saja kita bersikap keras terhadap orang itu dan "ga menyetujui" perasaannya, apapun itu?


I've been there before. I have been upset and received even more upsetting responses from whom i talked to. But i also have been the one who told someone to do this and that, without really listening to him/her. I really understand the feeling. And I have been thinking about this thing for a long time.


Sebagai manusia, saya masih merasakan kekecewaan, kemarahan, dan kesedihan. Berulang-ulang malah. Dan saya nggak yakin saya akan tetap bisa tenang dan bersyukur kalau saya ada di posisi Mbok Kerti. Saya nggak tau gimana sikap dan emosi saya ketika cobaan hidup terasa terlalu berat buat saya. Saya nggak tau apakah iman saya akan cukup kuat untuk bisa tetap tenang dan tetap bersyukur.

Terkadang saya terlalu lelah, terlalu marah, terlalu kecewa, bahkan untuk berpikir bahwa Tuhan itu baik, bahwa ada hal positif dibalik semua permasalahan di depan mata. Terkadang saya bahkan nggak mau mendengar ketika orang lain bilang sama saya untuk sabar, untuk tetap bersyukur, untuk tetap tenang. You just dont know how my feeling was.

Terkadang, dalam kekecewaan yang terlalu dalam, bahkan tidak ada respon apapun yang terasa tepat, bahkan dari orang terdekat sekalipun. Semua terasa salah. Dan menyebalkan. (yeah, sangat egois, i know)

Tapi pengalaman-pengalaman itu toh pada akhirnya mengajarkan banyak hal kepada saya. Setelah emosi-emosi sesaat itu mereda, setelah semua masalah berlalu (kadang dengan cara yang ajaib), In the end, i still know that He is God and He is good. Still i have been blessed with too much good things happenned in my life. And it left me with nothing but shame. Malu karena udah marah-marah sama Tuhan. Malu karena udah bersikap manja dan ga tau diri.

Yah, memang ketika kemarahan dan kekecewaan datang, lebih mudah untuk marah sama Tuhan daripada mengingat kebaikanNya. But, i guess, itu bagian dari belajar untuk hidup dalam Tuhan. Jatuh bangun berulang kali, untuk belajar jadi orang yang lebih baik, pada akhirnya.


Yang saya percaya, Tuhan itu Tuhan yang liberal. Dia menciptakan manusia dengan peraaan, dan Dia ga keberatan kalo manusia merasa marah dan kecewa kepada-Nya. Dalam batas tertentu tentu saja. (Batas inilah yang saya belom ngerti).

Yang saya percaya, Tuhan mengijinkan kita punya unek-unek yang disampaikan langsung kepadaNya, malah Dia senang kalau kita mencurahkan isi hati kita kepadaNya, termasuk kekecewaan dan kemarahan kita. Sepahit dan sebesar apapun kekecewaan dan kemarahan itu.

Yang saya percaya, Tuhan datang ke dunia dan menjadi manusia untuk benar-benar bisa merasakan perasaan manusia, termasuk kesulitan dan pergumulan hidup manusia. Jadi, Dia mengerti apapun kesulitan kita, He has been there before, and He knows exactly how it's feel like to be us, to be human.


Yang saya percaya, -walaupun klise dan ga gampang ketika harus benar-benar ngejalaninnya-, everything happens for reasons. Dan Dia ga bakal memberikan sesuatu yang lebih berat daripada yang bisa kita hadapi. Terkadang, Tuhan mengijinkan kita mengalami hal yang berat supaya nantinya, -ketika kita sudah berhasil melewatinya-, kita bisa menguatkan orang lain dan menjadi berkat buat mereka.


Well, for now, all i can say is, that's life. Menyebalkan kadang, tapi mau bilang apa? Pilihan di tangan kita seperti apa kita mau melihat hidup :)

Kalau kata bokap saya sih, hidup itu dibilang berat ya ga berat-berat amat, tapi dibilang enteng ya ga juga. I think he's right somehow. Life is not that hard, because we have our Almighty God. but life isnt easy either, because we still have to do our part.

Wednesday, March 10, 2010

after shutter island

Sejak jadian, saya jadi suka melakukan hal-hal yang saya ga pernah (dan ga suka!) lakukan sebelumnya. contohnya : nonton film thriller. (tapi untuk horror still a big no no).

waktu pertama kali liat trailer SHUTTER ISLAND, saya bilang sama cowo saya, "Kayanya bagus nih, nonton yuk!" dan kemudian dia merespon dengan, "Halah gaya..emang berani? haha"




nah, untuk membuktikan "keberanian" saya, jadilah kemaren ini saya nonton film tersebut sama si cowo dan orang tuanya. sebenarnya sih saya "dijebak", secara saya baru tau kita mau nonton shutter island setelah tiketnya udah dibeli. well, tapi emang saya pengen nonton sih.. setelah nonton Orphan, final destination, dan SAW dengan susah payah, -dan berbuah muka stress setelah film selesai-, saya rasa saya udah cukup siap mental buat nonton shutter island hahahaha *pede

anyway, saya punya a must have item buat nonton film thriller : syal/ cardigan/ jaket/apapun yang bisa buat "ngumpet" dan nutupin mata hahaha.. ga lucu kan kalo nutup mata pake tangan? jadi saya prefer pake benda2 seperti di atas, sekalian buat nahan dingin juga hehehe...

tapi karena hari itu saya ga prepare buat nonton film thriller, saya ga bawa syal. tapi untungnya saya pake cardigan. jadilah si cardigan turqoise jadi penyelamat saya hari itu, karena kira-kira 3/4 film itu saya tonton di balik cardigan hahaha *blush


well, walo kebanyakan ngumpet dibalik cardigan,i ended up with stressful face, as usual, and a gloomy mood. it's not a perfect way to end weekend, actually, but i must say this film is great! unpredictable plot and highly recommended, especially to whom who like psychology.


pada dasarnya saya orang yang suka mikir macem-macem. segala sesuatu, bahkan yang ga penting sekalipun, bisa saya pikirin. dan film itu sukses bikin saya berpikir (makin) macem-macem.

apalagi abis nonton film itu bokap cowo saya cerita tentang rasanya koma. beliau pernah koma, dan ketika koma itu beliau ngeliat flash back kehidupannya. bukan cuma hidupnya, tapi dari jaman adam dan hawa sampai hidupnya. beliau juga bilang kalo beliau bisa ngerasain dan tau semua hal yang terjadi selama dia koma, hanya aja beliau ga bisa berbuat apa-apa. well, mungkin ini yang dibilang kalo orang koma tetep bisa denger apa yang kita omongin ke mereka.


jadi tambah serem deh.


bukan serem ato takut gimana sih, tapi jadi makin sadar kalo hidup itu bener-bener hanya sekejap mata. like in a blink of eyes, sekarang udah pertengahan maret, padahal kaya baru kemaren ngerayain tahun baru. so fast. scaringly fast.

jadi berpikir tentang hidup. makin berasa semua ini ga real. jadi berasa seolah semua yang saya alami cuma mimpi yang akan segera berakhir. gimana ya? susah dijelasin, tapi saya tiba-tiba menyadari betapa ga kekalnya manusia. seperti yang dibilang di alkitab, umur manusia seperti ilalang, yang hari ini tumbuh dan besok udah layu dan dibuang ke perapian. (saya lupa sih gimana ayatnya, tapi kira-kira kaya gitu).

betapa kita bukan siapa-siapa dibanding kekekalan Tuhan. betapa hidup kita yang sekarang means nothing dibanding kekekalan nantinya (yang akan kita habiskan entah di surga atau di neraka). the idea of eternity scared me somehow. couldn't imagine how it would be like to live in eternity. neverending.

jadi berasa takut juga, apa yang kita lihat belum tentu fakta. belum tentu apa yang kita lihat itu benar. somehow jadi takut juga kalo selama ini yang saya alamin itu ga real, hanya ilusi semata. gimana kalo ternyata saya juga szicophrenia ? (hahaha kalo yang ini sih kayanya efek samping dari kebanyakan mikir aja).



kalo mau diterusin sih bakalan lebih panjang, dan saya sendiri susah ngejelasin apa aja yang ada di kepala saya hasil nonton film itu.

but anyway, shutter island still is a highly recommended film. you should watch it. maybe it isnt the mood enlightening film, but it's still worth it. still worth to watch. at least it is for me :)


happy watching!








*notes : pas googling cari gambar buat postingan ini, saya sebenernya nemu gambar yang lebih keren dan eye catching, tapi terlalu serem buat saya. jadi, daripada bikin shock jantung mendingan ga dimasukin deh hehe..

Wednesday, February 24, 2010

today's blessing

Lebih gampang ngeluh daripada bersyukur. that's me.

bosen kerja, ngeluh. macet, ngeluh. ujan, ngeluh. panas, ngeluh juga. ketemu orang nyebelin dikit, ngeluh. ketemu masalah dikit, ngeluh. tsk! kebanyakan ngeluh gini nih yang bikin hidup lebih ribet dan berat.

padahal, banyak orang yang lebih ga beruntung daripada gue, banyak orang yang hidupnya lebih susah daripada gue. harusnya sih gue malu ya, banyak orang yang lebih berat hidupnya daripada gue, dan mereka tetap bisa bersyukur and stay positive. berasa jadi anak manja banget kalo ketemu orang-orang kaya gitu..

nah, makanya, im trying to be grateful for every little things in my life. kadang ya, saking baiknya Tuhan, kita jadi merasa hal-hal yang baik itu 'wajar'; karena jarang ngalamin yang ga enak, kita jadi kurang mensyukuri hal-hal yang baik.

today's blessing

1. punya kantor yang deket rumah. Gue pernah ngerasain kerja di tempat yang lebih jauh, jadi sangat bersyukur punya kantor yang deket rumah, yang bisa bikin gue bangun siangan, dan cukup membutuhkan 15 menit saja untuk ke kantor :p

2. cuaca hari ini yang cukup bersahabat. walo agak gerimis pas jam gue berangkat dan pulang ngantor, tapi it's okay. paling ga gue tetep bisa berangkat dan pulang kerumah walo ujan-ujanan dikit.

3. si abang ojek langganan bisa jemput hari ini. it's simple, tapi sekalinya dia ga bisa jemput,gue kelabakan nyari transport pulang. susah kendaraan umum, bahkan ojek sekalipun di kantor gue. jadi, sebenernya ketersediaan abang ojek buat jemput tiap hari itu merupakan satu hal yang patut disyukuri. (ini nih yang gue bilang hal simple, tapi sekalinya ga ada bisa bikin masalah) :p

4. sehat waalfiat. haha klise. kesehatan baru berasa mahal kalo kita udah sakit. makanya gue mau mensyukuri selama gue masih dianugerahi kesehatan. jaga pola makan, pola tidur, dan minum vit. live a balance life.

5. punya HP yang bisa berfungsi dgn baik, lengkap dgn pulsanya. masih bisa berkomunikasi dengan siapapun. pernah donk ngerasain masa-masa dimana koneksi HP susah, ato ga ada pulsa? rasanya gregetan banget kan.. makanya, bersyukur deh kalo masih bisa bertelpon-telpon ria, ber sms-sms ria dengan lancar.

6. masih dikelilingi orang-orang yg disayang. keluarga, pacar, sahabat, temen-temen, semuanya. kita ga pernah tau kapan salah satu dari mereka dipanggil pulang. kita ga pernah tau umur masing-masing dari kita.

7. pulang kantor, sampe rumah saat masih ada matahari. senang skali bisa pulang cepet, bisa istirahat di rumah, ketemu sama keluarga, dan ngelakuin hal-hal lain. gue tau ini salah satu hal yang patut disyukuri karena banyak orang yang pergi subuh dan sampe rumah malem.

8. bersyukur masih punya kerjaan. dimanapun gue ditempatkan, i believe He has plans. ga ada kerjaan yang gampang, semuanya tergantung gimana kita menyikapinya. gue juga masih belajar buat mencintai dan menemukan passion di kerjaan gue, susah memang, tapi ya harus diusahakan. gue pengen dimanapun gue ditempatkan, gue bisa belajar hal baru dan menjadi berkat :)


udah mulai keabisan bahan untuk bersyukur nih. but at least i've tried. let's try again tomorrow.hehehe..


really really thanks to You, for keeping me alive til now. :)


Friday, January 15, 2010

ngapain pusing? if you love it, just do it!

waktu lagi blogwwalking, nemu artikel ini dan jadi inget sama pengalaman sendiri.


gw ngerti banget tuh rasanya si mbak okke (si penulis blog) yang bilang kalo dia sebenernya suka gambar, tapi karena gambar teman-temannya lebih bagus, dia jadi minder dan ga mau gambar di depan orang lagi. wah, gw banget tuh! haha (curcol)

gw juga suka gambar, walo ga sampe maniak gambar, tapi dari kecil -TK,SD,SMP gw suka gambar. waktu kecil malah gw suka bikin komik, dengan cerita versi gue sendiri tentunya, sampe berbuku-buku..walo ga pernah ada yang sampe tamat haha.

salah satu alasan gw masuk desain juga karena kesukaan gw pada gambar dan desain. gw suka keindahan, suka art, walo bukan yang terlalu nyeni banget. dan, i think i am artsy enough to be a designer (hopefully haha). tapi kenyataannya, ketika masuk dunia kuliah, gue mengalami juga tuh rasa minder yang berlebihan itu.

sistem pendidikan yang cenderung suka membanding-bandingkan, dan sistem kuliah desain yang kompetitif bikin gue sempet ragu sama keputusan gue buat ambil jurusan desain. ngerasa salah jurusan! (tapi sebenernya sih, kalo nggak ambil desain ga tau juga mau ambil apa. no other choice!). ngeliat karya temen-temen yang aduhai aduhai dan wow wow wow, dan ngeliat kenyataan karya gue yang biasa aja, cenderung di bawah standard (dibuktikan dengan nilai seadanya, kalo ga mau dibilang kurang), bikin gue stress, terutama pada awal-awal kuliah. dan karena stress, jadi makin ngotot bikin karya yang "nggak biasa", makin ngotot buat mikir "outside the box", dan pada akhirnya malah bikin ide buntu! hiks.

agak menyebalkan memang, saat kreativitas tinggi dibutuhkan, yang ada malah ga ada ide. makin ngotot mikir, makin buntu idenya. justru pas lagi santai, lagi tenang, kreativitas dan ide bisa dateng dengan sendirinya. tapi namanya kuliah, tugas, kan ada deadline. mau sampe kapan nyari-nyari ide.


ga suka sih mengingat masa-masa kelam semester awal itu. masa-masa pencarian jati diri di desain hehe. thanks God seiring dengan perjalanan waktu, kondisi semakin membaik. nilai gue semakin membaik, dan bahkan tugas akhir gue bisa dapet nilai memuaskan. (sekali lagi, itu mah namanya anugerah. kemampuan dan kreativitas gue mah pas-pasan doank..). tapi ketika masuk dunia kerja, kembali rasa tidak pede itu muncul.

siapa gue, anak baru lulus yang cupu, dibanding desainer-desainer yang udah berpengelaman dan keren-keren itu. minder sejadi-jadinya deh. dan kembali, gw jadi minder sama kualitas gambar gue yang emang jelek banget untuk ukuran desainer (hiks).

sampai suatu hari gue menemukan bahwa drawing skill bukan segala-galanya. ada arsitek terkenal, Frank Gehry yang ternyata juga ga bisa gambar. dan tiba-tiba fakta itu membuat hidup gue seperti lebih cerah hahaha... yah, minimal walo gambar gue ga bagus-bagus banget, tapi gue masih punya otak dan ide-ide yang bisa gue 'jual'.

yah, sampe sekarang sih masih tetep dengan pergumulan pencarian jati diri seorang desainer. tapi tulisan tadi itu bikin gue sadar, kalo setiap desainer punya karakter desain sendiri. dan enaknya di dunia desain, desain itu ga ada yang jelek ga ada yang bagus, namanya juga selera. cuma setiap hari harus meng improve diri sendiri.

intinya, kalo emang suka, ngapain pusing sama komentar orang. toh ini hidup ya hidup gw sendiri, hobby ya hobby gw sendiri. Hobby dan passion pribadi yang harusnya ga ditentukan oleh kritik dan subjektivitas orang lain. if you love it, just do it!



thanks to mbak okke! buat artikelnya. walo artikel lama, tapi bisa jadi pencerahan lho!hehe..

and especially, thanks to You who make me found that article. You know, i've been struggling about this for a while. thank you

Thursday, July 9, 2009

riding on that 'shinkanzen' again!

Im finding myself trapped on the very same situation again. the familiar feeling come all over again.

the feeling like i was on a very fast train, having no idea where i was going. having no idea what i should do. should i stop on the next station? or stopping on the last station? i even have no idea if i was on the right train or not. should i change train?

i didnt know where i am. i was on a country that i didnt know. with foreign language that i didnt speak. i was holding a map given to me before the journey, but i couldnt read it coz i havent translated it yet.


first, i had to learn to read the map. He who gave me this map is the only One who can help me translated it, coz He made it especially for me. so, what i should do is asking Him for help. but, He has His own way, and His unique way to answer,to help me. i havent understand it for now. i have asked Him, repeatedly, but i still was confused.

in the middle of my confusion, the train keep moving. and very fast. i feel like i wanted to stop the train from moving so fast. i feel like i couldnt keep up with the speed. i feel like i have to translate the map quickly then make decissions. but i (still) didnt know what to do.



dear He who gave me the map,
please show me how to read the map, please help me to translate it, or would You translated it for me? please? :)
i havent understand Your answer, but please help me to understand.